Tuesday, December 05, 2017

Tengul

Tahun 2013 pertama kali anak itu menampakkan diri di Komunitas RTJ
Saat itu ia diajak salah satu lulusan LP Anak Pria Tangerang yg memang ikut kelas komik, jadi kenal dengan saya.
dua anak ini saling bersaing rekor masuk penjara. Sebut saja si Tengil sudah 8 kali keluar masuk, sedang anak ini, sebut saja Tengul sudah 6 kali.
Mereka mampir sebentar lalu pergi lagi, sambil meninggalkan alamat di kawasan Senen, siapa tau saya mau mampir.
Lama tidak bertemu tahun 2015 mereka nongol lagi, sambil bercerita kalau baru saja bebas daripenjara (lagi)
Kasusnya sepele, tidak suka liat gerombolan polisi yg dianggap songong, lalu diajak berantem. Awalnya mereka berdua mampu mengalahkan 3 orang, sampai kemudian datang segerombolan teman-teman polisi dan kali ini mereka berdua keok.
Sampai kemarin pagi si Tengul tiba-tiba muncul. wajahnya terlihat cemas, keringat bercucuran. lalu meracau kalau dirinya merasa diikuti oleh aparat.
Konon ia baru bebas lagi dari lapas Pondok Rajek Cibinong empat hari lalu. Seperti biasa kawasan Senen menjadi jujugannya. Tetapi sekarang beda, stasiun sudah steril dari Preman, akses masuk juga sulit.
Susah buat "bekerja" lagi.
Mungkin karena bertambah umur Tengul mulai mengenal rasa takut. Jmn muda apapun dilabas. Berbuat dahulu mikir kemudian. Sekarang dirinya merasa tidak bisa seperti dulu. Nyalinya makin ciut seiring umur yg bertambah. Teman-teman di Senen pun mengingatkan agar ganti profesi. Jadi bandit jalanan di Senen sudah mulai susah.
Mendadak ia memberi saya nomer tlp ibunya. Kmarin sempat telepon tetapi tak tersambung. Saya kemudian memencet nomer yg diberikannya. Tersambung suara ibu2 nun di sana, di Kepri. "Hallo bu, ini Maman, temannya Tengul. Tengul mau bicara bu" sejenak diam, lalu dari seberang terdengar isak tertahan, Hp saya sorongkan ke Tengul yg langsung berkata keras" rasah nangis makk"
lalu mereka terlibat pembicaraan. Intinya si emak minta Tengul Pulang
"Yo nek ono sangu makk" kata tengul.
Pagi tadi, masih dengan muka takutnya Tengul saya paksa pulang. dengan bekal secukupnya. Wajahnya terlihat gentar. Sejak semalam saya bilang kalau dia harus menghadapi rasa takutnya. Hadapi saja, sekali-sekali belajar pasrah, kalau toh harus menerima kejadian apes iklasin saja, yang penting diniatkan pulang ketemu ibu. membasuh kakinya, minum kalau perlu air basuhannya, sambil minta maaf dan janji tidak akan menyusahkan lagi.
Barusan wa masuk, Tengul sudah di dalam bis yang akan membawanya membelah Sumatera, Mungkin empat hari baru sampai.
Semoga yang terbaik untuk kepulangannya

Thursday, April 27, 2017

10 Tahun Komunitas RTJ


Catatan Sahabat: 10 Tahun RTJ




Tidak ada anak-anak dan remaja yang berkeinginan menghabiskan salah satu masa pertumbuhannya di lembaga pemasyarakatan (LAPAS). Tetapi, karena satu dan lain hal, sebagian kawan-kawan terpaksa menjalaninya. Setelah bebas menghirup udara segar, tak mudah juga untuk kembali kepada kehidupan biasa. Stempel sebagai mantan anak LAPAS tak pernah hilang. Tetapi, hal ini bukan kiamat. Kawan-kawan Komunitas Rtj membuktikannya. 

Dengan penuh cinta, kehidupan di dalam dan di luar LAPAS dihadapi dengan asyik. Seperti yang disampaikan oleh Gus Irwan Masduqi, "Cinta kemanusiaan itu dasarnya aynu rohmah, di mana seseorang melihat apapun dengan kacamata kasih sayang. Bahkan melihat pendosa juga dengan kasih". Dan, masih menurut Gus Irwan, "... untuk meredam teologi kebencian, kita butuh teulujia naz'ah ansanah, yakni teologi yang berorientasi pada humanisme cinta kemanusiaan". 


Ya, saya sepakat, bahwa segalanya memang tentang dan untuk kemanusiaan. Saya bangga menjadi bagian kecil dari Komunitas Rumah Tanpa Jendela yang digawangi oleh seniman cum pekerja sosial budayaRahman Seblat dan kawan-kawan lainnya yang terus berjuang sampai detik ini.

Tabik.

Tomy Widiyatno Taslim 
Sutradara/ Pekerja Seni

Friday, March 25, 2016

Alur kegiatan program peduli, di Lapas/LPKA Salemba

Begini kira-kira alur kegiatan komunitas RTJ dan PKBI di LPKA (lapas) Salemba dalam program Inklusi Sosial untuk Andik (Anak didik, sebutan untuk narapidana anak) dlm bentuk novis (Notulensi Visual),

Selain pendampingan di dalam penjara, ada juga kegiatan penjangkauan dalam bentuk kunjungan keluarga yang dilakukan oleh PKBI DKI. Menemui keluarga narapidana anak, membicarakan masalah anak yang sedang bermasalah dengan hukum tersebut, sehingga ada solusi kongkrit. Selain itu ada juga kegiatan temu keluarga, dengan harapan hubungan anak dan keluarga membaik, sampai saat bebas nanti mereka bisa kembali lagi ke tengah keluarga, dengan penerimaan yang baik dari lingkungan terdekat sampai lingkungan tetangga dimana dia tinggal, Sehingga tidak ada kasus anak lari dari rumah mencari perhatian dari orang yang tidak tepat, lalu mengulang kesalahannya.

Ngomik di Lapas/LPKA Salemba

Saat ini komunitas RTJ digandeng oleh PKBI DKI terlibat dalam program peduli, membuat lokakarya komik curhat untuk warga binaan lapas/LPKA Salemba.

Di kelas komik curhat ini ada fasilitator yang terlibat mendampingi warga binaan menggambar komik Curhat. Nah, instruksi untuk fasilitator oleh mentor kelas komik dikirimkan lewat selembar gambar infografis. Tujuannya tentu untuk memudahkan, dan seru juga kan, instruksinyapun dlm bentuk visual smile emoticon
Berikut penampakannya:

Tuesday, May 12, 2015

Komik Penjara di PAKOBAN 4



Perhelatan Pasar Komik Bandung/ PAKOBAN yang ke empat kali ini menjadi ajang kampanye hak anak.
Lewat #SeblatKomik yang merupakan fans page di situs jejaring pertemanan FB, komik karya anak-anak lapas Tangerang dan Palembang ikut dipajang di lapak  seblat komik yang juga merilis komik "njeplak"nya yang selama ini hanya bisa dinikmati di FB.

Ada juga komik kompilasi karya dua orang lulusan komunitas komik lapas/KOLAPS dari lapas anak pria Tangerang, Andri boghel dan Armando. Judulnya "Komik curhat luar dalam sambil koprol"

Gerbang masuk area pasar komik
Boghel menceritakan pengalamannya hampir masuk penjara lagi karena dijebak oleh cepu (mata-mata polisi), kemudian Armando menceritakan kronologi dirinya masuk penjara.

Antusiasme pengunjung mengapresiasi karya komik anak penjara terasa saat komik yang dipajang ludes. Menyenangkan tentu saja.

Semoga komik karya anak-anak dari dalam penjara menjadi bacaan alternatif dan memberi pengetahuan baru tentang kehidupan anak-anak di dalam penjara. Harapannya, stikma buruk terhadap anak-anak "lulusan" penjara sedikit demi sedikit bisa terkikis.

Pengunjung membeli tiga komik sekaligus.
Selain komik penjara, ditampilkan pula komik sejarah lumpur Lapindo, yang menyajikan data awal penyebab menyemburnya lumpur.

PAKOBAN menjadi ajang uji coba komunitas komik RTJ/ Seblat Komik untuk memperkenalkan komik-komik yang diterbitkan secara mandiri.

hasilnya lumayan memuaskan, banyak pengunjung yang mengapresiasi.


Komik curhat luar dalam, dan komik njeplak



Komik Curhat Ada Lagi di LAPAS Anak



Setelah berhenti sekitar dua tahunan, kelas komik curhat dibuka lagi di Lapas Anak Pria Tangerang.
Diawali telepon dari salah seorang petugas lapas yang menanyakan aktifitas RTJ.
Mbak Wikie nama petugas itu, kemudian juga meminta RTJ membuat kegiatan lagi di lapas.

Rahman, selaku koordinator RTJ menyanggupi.
Maka mulai bulan April 2015 kelas komik RTJ mulai aktif. Ada beberapa fasilitator baru yang terlibat, diantaranya adalah kak Santo, Kak Intan, kak Filo dan kak Ellen.

Kelas komik dilaksanakan setiap hari sabtu di rumpin/ rumah pintar yang menjadi satu dengan perpustakaan lapas.
Anggota untuk kelas awal berjumlah 25 orang anak.
Kelas ini akan berlangsung selama 12 kali pertemuan atau tiga bulan.
Setelah tiga bulan akan ada perekrutan anggota baru lagi.
Selama setahun akan ada tiga angkatan kelas komik.
di setiap tiga bulan akan diterbitkan satu buku kompilasi komik yang akan dibagikan ke masing-masing anggota dan juga akan menjadi suvenir lapas yang dibagikan ke pengunjung lapas.

Harapannya sih kegiatan komik ini akan terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya, dengan relawan-relawan yang baru tentu saja.
Aminn :)




Tuesday, December 16, 2014

Anak-Anak Sungai Ciujung: “Pulihkan Sungai Kami”


Pencemaran Sungai Ciujung yang diakibatkan dari pembuangan limbah PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) bukan hanya dirasakan orang dewasa, tetapi juga anak-anak.
Anak -anak yang tinggal di bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciujung merindukan sungai yang bersih dan tidak tercemar seperti yang diceritakan para orang tua mereka. Sesekali mereka sempat merasakan sungainya tidak hitam dan bau, ketika PT IKPP ini sedang tidak buang limbah ke sungai. Akan tetapi hal seperti ini sangat jarang terjadi.
PT IKPP berada di daerah Kragilan dan membuang limbahnya itu mulai dari desa itu sampai ke muara Desa Tengkurak, Tirtayasa, Serang. Dari titik pembuangan limbah pabrik itu ke Sungai Ciujung, melewati  sekitar 17 desa dari 5 kecamatan yang berada di Kabupaten Serang, Banten.
Minggu, 21 September 2014, MediaLink yang bekerjasama dengan Riung Hijau dan Padepokan Seni dan Budaya Tirtadaya melakukan kegiatan workshop komik untuk anak-anak dengan tema “Pulihkan Sungai Kami”.  Kegiatan ini dilakukan di Padepokan Tirtadaya yang berada di Desa Cibodas Kecamatan Tanara. Desa ini merupakan salah satu desa yang di lewati aliran pencemaran PT IKPP ke Sungai Ciujung.
Ada 25 anak-anak yang mengikuti workshop komik ini yang terdiri dari anak sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah tingkat pertama (SMP). Mereka cukup antusias dan senang dengan menggambar komik ini, karena dianggap bisa meluapkan perasaan mereka terkait pencemaran yang terjadi di desanya melalui media gambar komik.
salah satu karya komik hasil workshop
Workshop ini diampu oleh Abdurrahman aktivis anak dari komunitas RTJ (Rumah Tanpa Jendela), yang juga seorang komikus yang banyak memberikan pendampingan terhadap anak-anak korban kasus lingkungan, yang dibantu oleh Sanusi, seorang pekerja seni visual.
Tujuan dari workshop komik ini adalah untuk memproduksi informasi visual yang didasarkan dan dirasakan pada pengalaman langsung masyarakat dalam hal ini anak-anak, mengenai pencemaran yang terjadi di Sungai Ciujung.

Sepanjang workshop, anak-anak dari bantaran Sungai Ciujung itu sangat antusias menuangkan pengalaman dan harapannya mengenai air sungai di sekitar mereka. Sesekali canda tawa mewarnai aktivitas mereka. “Sungaiku hitam!” ujar mereka ketika fasilitator menanyakan coretan apa yang sedang mereka buat. “Kampungku banjir!” ujar lainnya, menceritakan kampungnya yang terkadang terkena aliran sungai yang meluap.

Dari siang hingga sore, anak-anak tersebut menggambar tiga tema. Mulai dari cerita tentang diri mereka, kampung mereka, hingga harapan mereka terhadap sungai yang bersih. Di akhir acara, anak-anak berkesempatan melakukan foto bersama di depan sanggar. Jepret!
sumber tulisan:lembar informasi media link
penulis: mujtaba

Sunday, September 21, 2014

Selamatkan Sungai Ciujung!

Bersama Uci Sanusi, salah seorang relawan yang baru bergabung, kemarin hari minggu, tanggal 21 September 2014, komunitas RTJ membuat workshop komik curhat di Kampung Susukan, Cibodas Kecamatan Tanara, Serang Banten.

Workshop komik ini sendiri adalah "pesanan" dari Medialink, sebuah LSM yang sedang membuat pendampingan di wilayah Serang dengan isu penyelamatan Sungai Ciujung dari limbah pabrik kertas.

Ya, desa Susukan berada tak jauh dari sungai Ciujung yang saat ini tercemar parah oleh limbah pabrik kertas PT. Indah Kiat Pulp & Paper (PT IKPP)

Sebagai upaya kampanye penyadaran masyarakat atas kondisi sungai Ciujung yang memprihatinkan, media link berinisiatif membuat kampanye yang materinya disiapkan oleh warga sendiri. 
Lalu muncul ide melibatkan anak-anak untuk beropini lewat komik terkait kondisi lingkungan di sekitar tempat hidupnya. terkhusus kondisi sungai Ciujung yang tercemar limbah.

Hasilnya, bermacam opini muncul dan dituangkan dalam bentuk komik empat panel oleh sekitar 30 anak yang menjadi peserta workshop

Sesi diawali dengan perkenalan, kemudian permainan bersama untuk melatih konsentrasi dan membangun kebersamaan. Kami bermain gajah dan semut. Saat gajah di sebut maka anak-anak akan mengacungkan jari sambil bilang besar. Saat semut disebut maka anak-anak akan membuat lingkaran besar dgn tangan sambil teriak kecil. Permainan berlangsung seru sampai beberapa kali putaran. Kemudian sesi dilanjut dengan membentuk kelompok diskusi. kelompok ini berfungsi untuk menentukan tema gambar.

Selanjutnya, sebagai pemanasan menggambar komik curhat, masing-maing anak membuat komik data diri "aku adalah" dalam format empat panel. 
Untuk menggambar komik, peserta hanya diperbolehkan menggunakan spidol kecil, tidak boleh memakai pensil dan penghapus. Tujuannya agar mereka pede saat membuat garis, menumpuhkan rasa percaya diri dan menghilangkan keragu-raguan, serta tidak takut salah.
Awalnya banyak yang mengeluh salah goresannya, teta[i lama-lama setelah di motivasi mereka menikmati menggambar komik dengan cara spontan yang kami tawarkan.

Sesi berikutnya mulai menggambar dengan tema. 
Tema besarnya adalah "Lingkunganku"

Mereka bersama-sama mengamati apa saja yang ada di lingkungan tempat mereka tinggal. 
mulai dari aktifitas orangtua, sampai kejadian-kejadian yang pernah menimpa kampung mereka. 

maka muncullah gambar komik bercerita tentang pak tani yang adalah orang tua mereka sendiri, beternak bebek yang bisa jadi dilakukan saudara terdekat, lalu bencana banjir yang pernah melanda kampung mereka, juga hal lain yang pernah mereka rasakan selama hidup di kampung termasuk pencemaran sungai Ciujung yang ada di samping desa.
Setelah memilih tema kemudian masing-masing membuat gambar. 

hasilnya keren.. banyak judul komik muncul dan digambar dengan polos tetapi orisinil.

Komik terakhir mengambuil tema pencemaran sungai Ciujung.
Masing-maisng anak mencurhatkan perasaan mereka terkait pencemaran sungai yang sudah lama terjadi dan menjadi masalah sehari-hari warga.
Banyak harapan dari anak-anak itu yang  menginginkan sungai Ciujung kembali bersih, banyak ikannya dan terbebas dari pencemaran limbah kertas. Harapan yang wajar tentunya.

Rencananya komik-komik mereka akan dicetak dalam sebuah buku komik kompilasi yang nantinya akan dibagi ke sekolah- sekolah dan kepada warga & masyarakat luas sebagai media advokasi.

Sesi diakhir bermain sibatu dan sibata, saat disebut sibatu maka anak-anak akan jongkok. lalu gantian saat diseut sibata, anak-anak akan berdiri. Seru sekali sesi ini.

Sebelum kelas bubar kami foto bersama, sebagai kenang-kenangan sambil berharap suatu saat akan kembali membuat workshop komik  lagi.

Semoga juga komik curhat karya anak-anak akan efektif menjadi media kampanye penyelamatan Sungai Ciujung, minimal mengetuk hati orang lain untuk ikut memperjuangkan kali Ciujung bersih dari limbah lagi seperti dulu sebelum ada pabrik kertas.
Amiinnn...



Wednesday, February 12, 2014

the power of kebelet



Meski cuma tiga kali pertemuan, bisa jadi ini sesi workshop komik curhat terpanjang yang pernah terjadi. Di mulai dari bulan Oktober20013, selesai bulan Januari 2014

Mas Maman dari KomunitasRTJ mengisi workshop komik curhat di SMP Al Azhar Cibinong. 23 siwa terlibat dalam kegiatan workshop, terdiri dari anak kelas tujuh dan delapan.

Kegiatan ini dalam rangka ekstra kurikuler jurnalistik, yang nantinya akan terpakai mengisi mading dan majalah sekolah.
Selain komik curhat ada juga pelatihan fotografi dasar.

Hasilnya lumayan lucu-lucu. Anak-anak merekam pengalamannya selama mengikuti kegiatan di sekolah dalam bentuk komik. Ada yang cerita pengalaman sehari-hari di sekolah, ada juga yang menceritakan pengalaman waktu darmawisata di pare, kediri. Berikut ini sebagian komik mereka:













Friday, November 15, 2013

Komik Curhat di Saung Manggar

Sebelumnya, kami dari RTJ pernah membuat workshop komik curhat di Saung Manggar yang terletak di perumahan kavling DKI, Lampiri, Kalimalang Jaktim.

 Kemudian dilanjutkan dengan wokrshop gambar gerobag yang merupakan bagian dari acara Biennale Jakarta yang sekarang sedang berlangsung. Kami menggambari gerobag milik warga yang tinggal di luar perumahan kavling DKI dimana Saung Manggar berada, yang merupakan keluarga pemulung. Anak-anak para pemulung itulah yang ikut beraktifitas di Saung Manggar.

Lalu ternyata kegiatan kami berlanjut. Kerjasama dengan Taman Bacaan Saung Manggar sangat menyenangkan. Anak-anak yang aktif di Saung cukup responsif dan aktif.
Tanggal 17 November 2013, hari minggu, kami akan kembali ke saung.
Menggambar komik curhast lagi. Smoga kalau workshop berkelanjuutan, karya komik curhat anak Saung Manggar bisa diterbitkan menjadi buku.


Monday, July 15, 2013

Ucup (Cerita Pendampingan)

( beberapa kali aku urungkan nulis cerita ini, tapi, dini hari ini aku coba memberanikan diri )
 
Bocah itu sudah terlihat beda dari awal aku kenal dulu. Sikap pemalunya masih terlihat, tetapi gaya anak-anak “dalam” sudah muncul di dirinya. Gaya yang bisa jadi adalah siasat untuk bertahan hidup.
hari itu ia mengangsurkan kertas lusuh, terlipat mirip peloran kepadaku. sebuah nomer telpon tertera disitu, yang katanya adalah milik “abang-abangan”nya. “telponin mas, aku mau minta pulsa” katanya lirih.
pulsa, adalah strategi untuk mendapatkan uang penyambung “hidup” di tempat itu.
Kubaca, tertera nama yang asing, yang ternyata adalah nama asli dari salah seorang anak yang selama ini sebenarnya aku kenali dengan sangat akrab.

Rupanya yang ia sebut abang si anak itu, yang beberapa waktu lalu sudah bebas.
Si abang itu ternyata sudah menancap di hati Ucup, sebut saja nama bocah itu. “Ia berjanji mencari bapak saya mas”.
Degg.. aku seperti tertampar.
Aku memang sempat menjanjikan mencari orang tua bocah itu, agar mengurus pembebasannya. Sebagus-bagusnya tempat itu, tetap tidak layak untuk si Ucup, juga bocah-bocah lainnya yang bisa jadi karena keterpaksaan atau karena korban orang dewasa, akhirnya mendekam di tempat itu.
Si ucup, kembali ke bocah itu, tampak memain-mainkan ujung celananya. Celana hitam kedodoran yang katanya ia dapat dari kebaikan hati abang-abangannya yang sudah bebas. karena kepanjangan celana itu di potong dan ditisik dengan kasar. Semuanya dilakukan sendiri oleh bocah berumur tak lebih 13 tahun itu. Tisikan yang dilakukan dengan lidi, karena jaruma dalah benda terlarang di tempat itu.
kemandirian yang harus dilakoni oleh bocah itu. Ponakanku di umur sama dengan Ucup masih teriak-teriak kalau tidak di kasih uang saku minimal 5 ribu. Itu di jogja. Dan si Ucup, di usianya, dengan kesalahan yang sebenarnya bisa jadi karena tekanan hidup, Harus menajadi dewasa secara instant, mengurus dirinya sendiri termasuk mencari segala cara supaya bisa bertahan di tempat itu. Meniru strategi teman sebelumnya, dengan meminta pulsa yang akan ditukar sejumlah uang, untuk sekedar jajan.
Memang, ada perkembangan lumayan yang terjadi pada Ucup. Awal ikut komik curhat ia sangat tidak pede untuk sekedar menggores gambar. Mengeja tulisan pun terbata-bata, apalagi merangkai abjad. Tetapi sekarang komiknya sudah bicara. Abjad sudah tersusun menjadi kata. (Jeany yang terakhir rajin membimbing dia, karena aku sering mangkir dari kelas komik:P)
Hal-hal kecil itu yang sering membuat kami sayang untuk meninggalkan kelas komik ini, meski kadang dilanda kebosanan yang amat sangat.
Kelas yang sudah tak sekadar jadi ruang curhat, tetapi juga jadi tempat belajar membaca, menulis, terutama untuk anak-anak kecil semacam Ucup yang memang terlantar pendidikannya.
Kembali lagi ke ucup. Ia tampak asik dengan kelompoknya lagi, setelah menyerahkan “pesannya” itu. Kembali bergabung dengan anak-anak dari sekolah luar lapas yang hari itu ikut kegiatan workshop komik curhat gabungan antara SMP dan SMA dari wilayah Tangerang, dengan teman-teman Kolaps, yang hasil dari workshop itu rencananya akan dipamerkan bersama-sama.
Kelegaan kecil dari Ucup yang merupakan tonjokan keras buatku…
Lagi-lagi.. Tak boleh sembarangan berjanji.

@seblat |2009


Monday, November 26, 2012

Kisah: Ketika Penjara Tak Lagi Membuat Jera (Penjera)

Barusan saya ditelpon oleh sebut saja Opay, salah seorang anak yang sudah delapan kali masuk penjara, dan menjadi bagian dari kawan-kawan yang berkumpul di komunitas RTJ (komunitas pendamping anak-anak yang bebas dari penjara)
Opay sudah sampai dirumahnya di Sekayu, Sumatra Selatan.
Saya menyarankan Opay untuk balik ke kampung halaman saja, agar tak masuk penjara ke sembilan kali. Untuk meyakinkan dirinya, saya menelpon bapak Opay. Mengabarkan anaknya sudah bebas, juga meminta ijin, agar bapak si Opay mau menerima kembalinya si anak bengal itu.
Bapaknya cukup baik merespon saya.
Beliau sebenarnya juga berharap agar anaknya pulang saja.
Di kampung ada ladang yang bisa dijaga. Lumayan penghasilannya.

Saya sempat ngobrol panjang dengan Opay, yang sekarang sudah umur 25 tahun, tentang kenapa ia suka banget keluar masuk penjara.
Saya mengenal Opay tahun 2006 saat di kelas komik curhat Lapas Anak Pria Tangerang.
Opay menjadi salah satu peserta komik curhat.
Gayanya yang “serondolan” menarik perhatian saya. Hobi berantem di penjara, cari perhatian dan suka mendominasi teman-temannya adalah beberapa sifat khasnya.

Tahun 2007 kembali saya bertemu Opay. Masuk lagi setelah bebas di akhir tahun 2006.
Ini kali ke empat dia masuk penjara.

Opay pertama kali masuk penjara, di Palembang, gara-gara kasus pencurian.
Waktu itu ia masih berumur 14 tahun. Meski berlatar keluarga yang lumayan berada, Opay hobi mencuri.
Tetapi selama saya bergaul, dia tak menuntukkan tanda-tanda klepto.

Opay masuk penjara kedua kali karena apes.
Ceritanya ia lagi tiduran di masjid (meski bandit, anak ini jago ngaji lho) ada bapak-bapak yang menitipkan tas kepada si Opay.
Mendadak ada operasi anak jalanan yang dilakukan polisi.
Opay diperiksa KTP,dan ia belum punya (meski sudah 17 tahun)
Apesnya lagi, si Opay juga dituduh menghipnotis si bapak yang titip tas ke dirinya.
Tuduhan itu dilontarkan oleh salah seorang polisi yang pernah bertemu di polsek saat kasus sebelumnya.
Singkat cerita Opay digelandang ke kantor polisi dan dipaksa mengakui perbuatannya. Karena tidak tahan di sisksa polisi, akhirnya Opay “ngaku”
Maka, dua kali ia masuk penjara.

Sekeluar dari penjara di Palembang itu, Opay kemudian pindah ke Indramayu, rumah kakek dari ayahnya.
Saat tidak punya uang, Opay memalak. Kelakuannya itu, karena Opay yang sejak kecil belajar silat, sangat percaya diri dengan kemampuan bela dirinya (makanya hati-hati kalau mengajari anak ilmu bela diri. Kejadiannya bisa berbalik jadi alat menekan orang lain :P)
Pada suatu hari Opay apes, sehabis malak ia dicokok polisi yang melihat aksinya.
Untuk ketiga kalinya ia masuk penjara di salah satu kantor polisi di Indramayu.

Sekeluar dari penjara, Opay pindah ke Senen, mengikuti temannya.
Ia menjadi preman remaja di stasiun Senen.
Di Senen, ia kembali berulah. Kali ini ia membajak bis Mayasari Bakti.
Bersembilan ia membajak bis tersebut.
Untung ada polisi yang mengetahui aksinya. Gerombolan Opay kocar-kacir, beberapa babak belur dihajar massa. Opay sempat bisa melarikan diri, tetapi tertangkap polisi di dekat rel stasiun Senen.
Kembali ia masuk penjara. Lalu ia masuk ke LApas Anak Pria Tangerang
Disanalah kami bertemui.

Sekeluar dari Tangerang, kembali ia berulah. Menodong orang di Grogol.
Apes, ia ketangkap polisi karena korbannya berteriak minta tolong.

Lagi-lagi masuk penjara, dan ketemu saya lagi.
Masih dimasukkan ke lapas anak. Padahal jelas-jelas dari tampangnya sudah terlihat sebagai anak umur duapuluhan tahun.

Petualang si Opay berlanjut.
Cukup lama tidak ada kabar, tiba-tiba ia SMS saya. Mengabarkan sekarang di Senen lagi.
Lalu bertanya alamat saya di Depok.
Tak lama anak itu mucul di markas RTJ. Kami ketemu lagi.
Ia bercerita kalau sempat masuk penjara lagi setelah pertemuan kami terakhir tahun 2007.
Kasusnya sama. Memalak orang.
Memang tidak ada jeranya.
Itu yang ke enam kali ia masuk penjara.
Setelah itu, Opay menyatakan bertobat. Katanya pengen jualan saja.
Lalu kami patungan membelikan dagangan Opay berupa: korek gas berbentuk tempat rokok, gas tabung untuk ngisi korek, dan kaset bekas.

Opay berjualan di selasar jalan masuk menuju stasiun senen.
Setalah itu, karena kesibukan saya jarang kontak-kontakan dengan si Opay.
Sampai pada suatu hari saya ditelpon Opay. Ia ketangkap polsi saat razia senjata tajam.
Ia meminta saya mengurus pembebasan, karena pasal darurat katanya bisa di nego.
Saya kemudian ke posek Senen. Berusaha mengurus Opay dengan bertemu dengan komandan yang menangkap Opay.
Dari pak komandan polisi itu saya mendapat cerita, betapa bencinya pak komandan dengan Opay. Anak yang sangat tidak sopan saat di interogasi.
Pak komandan meminta saya tidak mengurus  Opay. Biarkan saja masuk penjara. Negosiasi dengan uang pun tak diterima.
Dalam hati sebenarnya saya bersyukur, tidak jadi mengeluarkan uang.. hehehe.

Saya berpikir, tujuh kali masuk penjara akan benar-benar membuat Opay jera.
Ternyata tidak.
Saya mendapat kabar (lagi) dari salah seorang teman yang menjadi pendamping napi yang terpapar HIV/AIDS di lapas Salemba, kalau ia bertemu Opay.”halah!”
Kasus terakhir agak mendingan. Ia membela temannya yang dikeroyok tentara. Temannya salah palak. Yang dipalak rupanya tentara. Ada teman-temannya pula.
Akhirnya dua orang itu berkelahi dengan enam tentara.
Tentu saja kalah. Akhirnya di jebloskan lagi ke penjara.
Masuk polsek Senen dengan komandannya masih yang saya temui di kasus Opay sebelumnya (terbayang, si komandan tersebut pasti geleng-geleng sampai pusing kepalanya :D)

Sebebas dari penjara untuk ke delapan kalinya, Opay datang ke ruamah saya. Itu beberapa hari yang lalu, yang kemudian saya sarankan untuk pulang saja dulu.
Siapa tahu itu akan "memutus karmanya," yang bolak-balik masuk penjara.
Mungkin Jawa (Jakarta) tak bagus buat dia. Jadi dengan balik ke Palembang (Sekayu) ia benar-benar bisa memulai hari dengan lebih jernih dan terjauh dari “mata rantai penjara” yang seolah sudah  menjadi jalan hidupnya.

Saya kemudian berpikir, dimana fungsi penjara sebagai penjera?
Apakah karena si Opay dipenjara terlalu dini (14 tahun) makanya ia seolah imun dengan penjara? (makanya kampanye “hapus penjara anak” jadi dirasa perlu)

Kekerasan demi kekerasan yang ia rasakan sejak dari remaja, justru menempanya menjadi tangguh menghadapi penjara yang keberadaannya diniatkan menjadi penjera dan menjadi  momok bagi sebagian orang.

Saya menulis ini, juga setelah membaca artikel tentang resiliensi yang dipublis oleh jurnal online UGM (saya sertakan link: http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=5131 )
Di satu sisi, saya melihat Opay sudah resiliensi terhadap hidupnya.
Resiliensi yang diartikan sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan teguh di dalam situasi sulit justru membuat Opay tak jera dengan penjara.
“Ah, paling seperti itu juga rasanya.”
Si Opay bahkan menemukan celah untuk bisa bertahan hidup di penjara.
Dengan bekal stikma residivis, Opay bisa memalak napi “kijang baru” yang masih hijau di penjara tahanan polisi atau di lapas.
Bahkan lebih dahsyat lagi, ia bisa menjadi penguasa blok atau bahkan penguasa penjara.
Dengan itu penjara akan  menjadi tempat nyaman buat dirinya.
Bahkan ia bisa bilang “di rutan lebih gampang nyabu daripada di lapas”
Temuan yang masih perlu dibuktikan sih.
 Dengan kondisi tersebut, pantaslah ia kemudian bolak-balik masuk penjara.

Meski di pertemuan kemarin, ia menyatakan tidak ingin masuk lagi.
Sama di pertemuan sebelumnya.
Makanya, kemudian saya menyarankan ia untuk “balik kandang”
Siapa tahu itu bisa menjadi cara, karena memang saya belum menemukan cara apa yang bisa membuat ia benar-benar JERA
Oh ya, kemarin saat Opay mampir ke rumah saya, ia mengajak teman seperkaranya yang rekor masuk penjaranya tak kalah sama Opay. Tujuh kali. Sama seperti Opay, Rama, sebut saja namanya, masuk penjara dari umur 15 tahun.
Nah...

@seblat








kliping berita:LAPAS Dukung Proses Resiliensi Anak Didik

sumber berita:
http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=5131&utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter

Kehidupan sebelum di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) berpengaruh terhadap resiliensi anak didik di LAPAS. Kelemahan dalam regulasi emosi sebelum masuk LAPA dapat kembali muncul ketika berada di LAPAS dan bisa memperburuk kemampuan penyesuaian anak didik jika mereka kurang memiliki dan kurang memanfaatkan aset-aset atau potensi-potensi internal yang dimilikinya. Sebaliknya, bagi anak didik yang cukup memiliki aset internal dan mampu menggunakannya ketika di LAPAS, maka efek negatif kehidupan pra LAPAS terhadap resiliensi dapat diminimalkan.
Demikian salah satu kesimpulan Yulia Sholichatun, S.Psi., M.Psi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri, Malang saat menempuh ujian terbuka Program Doktor Ilmu Psikologi UGM, Senin (26/11). Didampingi promotor Prof. Dr. M. Noor Rochman Hadjam dan ko-promotor Dr. Tina Afiatin serta Subandi, M.A., Ph.D., promovenda mempertahankan desertasi "Regulasi Emosi dan Dukungan Sosial Sebagai Moderator Hubungan Stres dan resiliensi Pada Anak Didik di LAPAS Anak".
Yulia mengatakan LAPAS memberikan sumbangan penting terhadap proses resiliensi anak didik. Sumbangan tersebut diberikan melalui beragam bentuk dukungan baik secara emosi melalui pendampingan para petugas maupun secara instrumental dan informatif melalui sarana-sarana, kontrol dan aturan, serta program-program pembinaan untuk anak didik.
Iapun berharap para petugas LAPAS untuk selalu meningkatkan pengetahuan khususnya terkait dengan pemahaman terhadap kondisi psikologis anak didik. Melalui upaya pemberian dukungan secara emosional dan informatif diharapkan lebih mengena pada kebutuhan anak didik, baik kebutuhan ketika masih dibina di LAPAS maupun ketika sudah keluar LAPAS. "LAPAS hendaknya melakukan pengembangan pola pembinaan yang lebih menekankan pada kesiapan psikologis anak didik untuk kembali ke masyarakat," katanya.
Karena itu, ketrampilan-ketrampilan psikologis sangat diperlukan untuk diajarkan pada anak didik, seperti kemampuan dalam hal manajemen stres, problem solving dan kemampuan dalam mengendalikan emosi. Sedangkan terkait temuan peran agama bagi resiliensi anak didik, LAPAS disarankan dapat memberikan perhatian terhadap pengembangan keagamaan anak didik. "Tidak terbatas dalam ritual ibadah, tetapi juga pada penanaman nilai keimanan serta pengaruhnya terhadap karakter dan perilaku sehari-hari anak didik," imbuhnya. 
(Humas UGM/ Agung)